Pemanfaatan Teknologi Produktivitas Hayati/Bio Untuk Penyuburan Lahan Dan Peningkatan Hasil Pertanian Di Daerah Transmigrasi

Oleh: Ali Zum Mashar

A. Latar Belakang

Peningkatan jumlah penduduk yang pesat (laju pertumbuhan berkisar 1,6% -1,7%) setiap tahunnya jika tidak diikuti dengan peningkatan produksi pangannya akan menimbulkan rawan pangan nasional akibat kesenjangan yang terus melebar antara kebutuhan dan ketersediaan pangan. Semakin menyempitnya lahan subur beririgasi di Pulau Jawa karena beralih fungsi pemukiman dan industri sebesar 100.000 ha/th, kesuburan lahan produktif yang semakin menurun akibat salah kelola menjadi ancaman serius bagi kekurangan bahan pangan penduduk di Indonesia; apalagi 60 % produksi pangan masih bergantung dari Pulau Jawa. Hal ini perlu segera disikapi dengan cara membangun daerah produksi pangan di luar pulau Jawa sebagai langkah ekstensifikasi yang jelas dan juga menerapkan teknologi produktivitas yang mampu memacu kesuburan lahan dan produksi tinggi tanaman dalam waktu yang relative cepat. Oleh karena itu, daerah Transmigrasi merupakan pilihan yang tepat untuk tujuan di atas. Daerah transmigrasi solusi dan harapan yang besar bagi pembangunan pertanian di luar pulau Jawa sekaligussebagai penunjang percepatan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Melakukan peningkatan produksi pangan di luar Pulau Jawa bukanlah hal yang sederhana. Pengembangan lahan pertanian (sawah) baru dengan mencetak lahan baru tidaklah murah. Pengalaman transmigrasi yang telah memanfaatkan lahan pasang surut dan lebak seperti di PLG Kapuas Kalimantan Tengah, Tanjung Jabung Timur (Jambi), Masuji Bawah Lampung, Air Kubang Musi Banyu Asin (Palembang), Merauke dinilai kurang cepat berhasil karena kurang siapnya paket teknologi dan infrastruktur yang layak.
1) Disampaikan pada acara Work shop Revitalisasi ketahanan pangan dan energi di daerah transmigrasi, oleh : Ditjen P2MKT, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I, Jakarta, tanggal 29 Maret 2006.
2) Inventor teknologi BioPerforasi, Penerima Anugerah Presiden Kalyanakretya Utama bidang Pertanian, Peneliti puslibangtrans.

Namun, diyakini dengan memanfaatkan lahan lebak dan pasang surut dipandang sebagai peluang terobosan untuk memacu produksi meskipun disadari bahwa secara alami produktivitas di lahan tersebut masih rendah. Prospek tersebut menjadi relevan apabila melihat hasil akhir berbagai upaya program revolusi hijau di lahan beririgasi di pulau Jawa sudah jenuh dan tidak lagi memberikan kontribusi nyata pada peningkatan produktivitas karena telah mencapai titik balik (Levelling Off) dan produktivitas yang terjadi justru cenderung menurun.

Departemen pertanian misalnya, telah berupaya meningkatkan produktivitas tanaman pangan pokok seperti padi terus dilakukan melalui berbagai paket usaha tani termasuk mencari dan memanfaatkan varietas padi yang berpotensi hasil tinggi. Upaya melalui pemuliaan modern, telah mempercepat proses breeding alamiah dan seleksi agar diperoleh tanaman unggul sesuai kehendak manusia dan terbukti mendapatkan tanaman yang memiliki potensi produksi tinggi. Sedangkan upaya teknologi transgenik hingga saat ini baru mampu memindahkan karakter spesifik tanaman seperti ketahanan terhadaap hama/penyakit tertentu, toleransi terhadap cekaman kekeringan dan sifat-sifat tertentu lainnya, adalah contoh kemajuan yang positif dari sisi plasma nutfah benih. Namun semua itu kurang berarti jika lahan pertanian sebagai sasaran tanam terus menurun baik kualitas maupun luasannya sehingga menjadi kurang berarti pula sebagai pemenuhan produksi pangan nasional.

Penurunan produksi setiap tahunnya terjadi pula pada komoditi pangan lain seperti Jagung, Kedelai, singkong, dll. Seperti pada komoditi kedelai, akhir-akhir ini menunjukkan bahwa trend produksi kedelai di dalam negeri terus menurun seiring menurunnya luasan panennya yang kurang dari satu juta hektar/tahun. Laju impor kedelai menjadi semakin kuat hingga mendekati 2 juta ton/th yang berarti mencapai lebih dari 60 % dari kebutuhan dalam negeri. Meskipun pemerintah terus mengembangkan varietas-varietas unggul yang berumur pendek, berbiji besar dan memiliki produktivitas tinggi, namun setelah diterapkan di daerah transmigrasi terjadi kesenjangan produktivitas yang dibawah deskripsinya, masih di bawah produksi rata-rata nasional.

Rendahnya produktivitas di daerah transmigrasi disadari akibat dari banyaknya anasir di dalam tanah,seperti pH yang rendah, tanah beracun, bahan organik yang tidak seimbang maupun lingkungan mikro ekosistem yang kurang ideal bagi tanaman yang bersangkutan. Tentunya untuk mendapatkan hasil maksimal, tanaman memerlukan persyaratan-persyaratan khusus yang “Presisi” dalam budidaya seperti perlunya kesuburan lahan, pemupukan, mengamankan dari OPT dan/atau perlakuan lainnya. Tetapi jika tidak dipenuhi, justru yang terjadi sebaliknya menjadi bencana dalam usaha tani.

Pemanfaatan jasa bioteknologi mikrobial menjadi alternatif solusi yang ideal dalam membangun kesuburan lahan baru yang paling murah dan cepat. Meskipun pada dasarnya jasad renik yang dimanfaatkan itu telah ada di alam, namun karena proses land clearing dan pembakaran lahan keberadaan mereka menjadi tidak seimbang lagi. Akibatnya tanah yang baru dibuka menjadi sakit dan “Stress” yang perlu ditangani segera agar segera dapat dimanfaatkan. Menyemaikan kembali mikroba unggul bermanfaat tersebut ternyata efektif dalam mengembalikan dan meningkatkan kesuburan lahan yang sakit. Teknologi ini sering disebut sebagai teknologi organic/Bio atau pupuk hayati yang sering dimanfaatkan dalam pertanian Organik. Salah satu produk yang telah direkomendasi oleh Departemen pertanian dan dikukuhkan oleh keputusan komisi DPR RI untuk tujuan percepatan swasembada pangan dan produksi pertanian di lahan yang baru dibuka seperti di daerah transmigrasi adalah Pupuk hayati Bio P 2000 Z .

B. Teknologi Bio/Hayati Penyubur Lahan dan Produktivitas Tanaman

Akibat pembukaan hutan untuk pertanian, pemupukan yang berlebihan, pemakaian pestisida yang melebihi daya dukung lingkungan adalah penyebab kemerosotan mutu lahan dan lingkungan mikro di dalamnya. Tumpukan residu racun dalam tanah baik yang bersifat alamiah seperti pirit, sulfat masam, alumunium dan residu racun pestisida dan pupuk jika tidak terurai di dalam tanah akan menjadi “racun tanah” dan tanah menjadi “Sakit”. Ion-ion yang tidak seimbang di tanah tersebut cenderung menyebabkan tanah menjadi masam, dan berpengaaruh besar terhadap terhambatnya tumbuh kembang tanaman.

Upaya mengembalikan keseimbangan alami melalui penyuburan organik terus digalakkan melalui paket pertanian organik, tetapi banyak orang beranggapan pertanian organik adalah pemakaian pupuk organik seperti kompos yang terasa berat dalam penerapannya dan mahal yang belum tentu sesuai dengan peningkatan produksinya. Pemanfaatan jasa mikroba sinergistik yang mampu membuat bahan organik alami di dalam tanah belum banyak dipahami, padahal kunci dari kesuburan biologi (organik) dikendalikan oleh mikroba ini.

Teknologi mikrobial hayati komersial yang dikenalkan dipasaran sebagian besar justru sebaliknya mempercepat penurunan bahan organik didalam tanah seperti EM-4. beberapa teknologi sinergistik yang dikenalkan seperti CM-Series untuk tanaman Padi, Mikorhyza untuk Jagung, dan bakteri-bakteri pelarut fosfat alam belum mampu menunjukkan hasil yang memuaskan sehingga hilang dari pasaran kalah dengan penggunaan pupuk kimia.
Telah diketahui bahwa semua mikro-organisme unggul berguna dapat diintroduksikan ke tanah dan dapat diberdayakan agar mereka berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, sekumpulan mikro-organisme diketahui menghuni permukaan daun dan ranting. Sebagian dari mereka ada yang hidup mandiri, bahkan dapat menguntungkan tanaman. Ternyata diketahui beberapa mikroorganisme tersebut melakukan assosiasi dengan tanaman dan saling memanfaatkan sekresi yang dihasilkan, dimana mikroba memanfaatkan sisa-sisa nutrisi dan cairan mineral tanaman sedangkan mikroba menghasilkan sejumlah senyawa dan energi, nutrisi organik intermediate yang dapat diserap langsung dan dibutuhkan oleh tanaman untuk memacu metabolisme tumbuh-kembang yang optimal-maksimal tanaman. Prinsip-prinsip di atas telah diungkapkan dalam kaidah-kaidah penerapan pupuk Hayati Bio P 2000 Z.

Hal ini dirasa perlu untuk kembali ke keadaan seimbang semula dengan jalan melakukan rekayasa alamiah. Keseimbangan alami dalam tanah secara nutrisional (kimia), mikro-organisme dan tanaman (biologi), kondisi alam dan perlakuan manusia (fisik) diciptakan agar dapat menunjang sebesar-besarnya pencapaian produksi tanaman setinggi-tingginya tanpa mengganggu keseimbangan lestari ini harus menjadi landasan bagi usaha pertanian tradisional maupun modern yang berkelanjutan.

Teknologi hayati Bio P 2000 Z dapat menjawab tantangan di atas dan menjamin kualitas dan lestarinya pertanian yang berkelanjutan, tetapi pada kondisi seperti ini diperlukan dukungan pelingkung seperti memberikan subsidi pada petani melalui kebijakan yang kondusif karena petani transmigran jauh dari kemampuan untuk membeli.

C. Pemanfaatan Teknologi Bio untuk Memacu Produktivitas di Daerah Transmigrasi

Seperti Pupuk hayati Bio P 2000 Z sebagai teknologi mutakhir sistem Bio perforasi; adalah Pupuk hayati Bio Perforasi yang diramu dari kumpulan mikro-organisme indegenus terseleksi bersifat unggul berguna yang dikondisikan agar dapat hidup harmonis bersama saling bersinergi dengan kultur mikro-organisme komersial serta dibekali nutrisi dan unsur hara mikro dan makro yang berguna bagi mikroba dan komoditas budidaya. Sekumpulan mikro-organisme unggul berguna dikemas dalam pupuk hayati Bio Perforasi terdiri dari dekomposer (Hetrotrop, Putrefaksi), pelarut mineral dan phospat, fiksasi nitrogen, Autotrop (fotosintesis) dan mikroba fermentasi serta mikroba penghubung (seperti Mycorrhiza) yang bekerja bersinergi dan nutrisi bahan organik sederhana, seperti senyawa protein/peptida, karbohidrat, lipida, Vitamin, senyawa sekunder, enzim dan hormon; serta unsur hara makro: N, P, K, S, Ca, dan lainnya berkombinasi dengan hara mikro: seperti Mg, Si, Fe, Mn, Zn, Mn, Mo, Cl, B, Cu, yang semua unsur yang disebut di atas diproses melalui cara fermentasi.

Bio Perforasi secara komprehenship membentuk dan mengkondisikan keseimbangan ekologis alamiah melalui sekumpulan jasa mikro-organisme unggul berguna yang dikondisikan, bersinergi dengan mikroba alami indogenus dan nutrisi; dan dengan menggunakan prinsip “mem-bioperforasi“ secara alami oleh zat inorganik, organik dan biotik pada mahluk hidup (seperti tanaman) sehingga memacu dan/atau mengendalikan pertumbuhan dan produksinya. Ternyata dengan sistem demikian masalah tersumbatnya produksi komoditi pertanian dapat dipecahkan.

Efek sinergi tersebut diwujudkan dalam bentuk : (1) diredamnya faktor penghambat tumbuh kembang tanaman yang dijumpai dalam tanah, (2) adanya produksi senyawa bio-aktif seperti enzim, hormon, senyawa organik, dan energi kinetik yang memacu metabolisme tumbuh kembang akar dan bagian atas tanaman, (3) fotosintesis makin efisien karena jalur reaksi Hill teraktifkan, (4) fixasi nitrogen non-simbiotik dan simbiotik meningkat, (5) pasok dan penyerapan hara oleh akar makin efesien, lancar, dan berimbang, (6) ketahanan internal terhadap hama dan penyakit meningkat, dan (7) produksi dan mutu hasil meningkat.

Melalui jasa mikro-organisme unggul yang sebelumnya telah dikondisikan terhadap lingkungan tumbuh kembang tanaman serta dibekali nutrisi dan unsur hara, faktor pembatas produksi dan kendala tumbuh asal tanah dan lingkungan dapat direndam sehingga tanaman dapat dipacu berproduksi tanpa menggangu hasil rekayasa konstelasi genetik yang telah dimiliki tanaman sebelumnya. Hal ini seiring dengan tujuan meningkatkan produktivitas hasil dari tanaman varietas unggul yang memiliki potensi genetik tinggi seperti padi Hibrida, inbreed PTB dan padi unggul lain yang akan dikembangkan untuk daerah-daerah kritis lebak rentan cekaman kesuburan tanah yang labil. Penggunaan mikroba Bio P 2000 Z secara teratur dan sesuai anjuran ternyata mampu mendongkrak potensi produksi tanaman yang bersangkutan melebihi referensi Genetik yang dimilikinya dan cekaman anasir penghambat dalam tanah.

1. Manfaat Mikroba Penyubur Pada Tanah Pertanian di Daerah Transmigrasi.
Terbukti bahwa penerapan Bio P 2000 Z di daerah-daerah transmigrasi seperti di lahan Gambut, Lebak, Pasang surut yang memiliki pH masam (pH 3 – 4,5) selama proses budidaya dengan cara ini pada akhir tanam tanah dapat meningkat pH-nya menjadi pH 6,5 tanpa pengapuran. Padahal dengan cara konvensional yaitu pengapuran dibutuhkan 10 – 17 ton/ha yang tidak hanya mahal dalam bahan tetapi juga dalam aplikasinya di lapangan. Menyebarkan mikroba Bio P 2000 Z dengan cara penyemprotan tidak hanya murah/hemat dalalam biaya tetapi juga lebih mudah dan praktis dalam opreasionalnya, pH stabil secara alami (berkesinambungan) dan produktivitas tanaman yang meningkat juga langsung dapat dirasakan manfaatnya karena lahan menjadi semakin subur. Efisiensi biaya untuk peningkatan pH tanah dengan tanpa pengapuran ini (memanfaatkan jasa mikroba Bio P 2000 Z) dibanding dengan cara pengapuran adalah 1 : 17.

2. Manfaat Pada Tanaman Padi
Pada masa awal ujicoba telah dilakukan pemakaian pupuk hayati Bio P 2000 Z oleh petani transmigrasi di UPT Dadahup B-2 Kalteng yang menunjukkan respon positif pada lahan baru tersebut. Budidaya dilakukan pada padi IR di lahan beririgasi semi teknis (buka tutup luapan sungai) dan dan di lahan PS dengan system sawit dupa padi lokal siam. Uji Pembuktian produktivitas pupuk pada padi menunjukkan bahwa pada lahan sawah yang masam dan kesuburan rendah dapat mendongkrak tumbuh kembang tanaman dengan performa 2 – 3 kali tanaman normalnya. Uji coba selanjutnya di Kalijati-Subang, dengan pemakaian rutin di lahan sawah irigasi yang tua dapat menurunkan pemakaian pupuk kimia sampai 60% dengan diiringi peningkatan produksi padi IR-64 dan Ciheurang (mencapai 8 – 10 ton/ha GKG) dilahan yang sama kontrol petani hanya mendapatkan 4,5 – 5.5 ton/ha. Penerapan Bio P 2000 Z pada padi hibrida Pusaka (umur 90-97 hari) mencapai hasil 9,7 – 10.5 ton/ha (skala petani di Karawang); Padi Hibrida Pusaka 2 hasil mencapai 11,5 – 13,5 ton/ha (skala uji coba terbatas). Teknologi Penyubur ini pada padi PTB (Var Fatmawati dan Padi Tipe baru) menunjukkan hasil yang melebihi potensi determinasinya, 10 – 13 ton/ha (dalam penerapan paket bioteknologi Bio P 2000 Z padi unggul di sawah kritis Kalijati-Subang), dan juga di daerah-daerah lain.

Keunggulan penerapan teknologi Bio Perforasi pada padi adalah meningkatnya produktivitas dan kualitas beras. Pada padi unggul nasional memacu bertambahnya anakan produktif rata-rata 19 – 35 anakan dan kuatnya perakaran (gambar A), tahan rebah dan serangan penggerek batang; malai lebih besar (berisi) sehingga dibanding tanpa Bio P2000Z pada volume gabah kering giling (GKG) yang sama rendemen meningkat 30% – 40%. Karena proses keseimbangan hara ini beras lebih jernih dan tidak mudah remuk/patah saat digiling. Sedangkan hasil kering panen rata-rata riil yang dicapai petani di lapangan adalah 8,5 – 11,5 ton/ha dan yang tanpa Bio P hanya 5,5 – 7,0 ton/ha. Potensi hasil uji coba penelitian dapat menghasilkan gabah 13 – 15 ton/ha. Rekomendasi BALITPA Sukamandi aplikasi Bio P 2000 Z untuk padi yang paling menguntungkan adalah 3 liter/ha 2 – 3 kali aplikasi akan meningkatkan kenaikan produksi 15 – 40 %. Penggunaan bio P 2000 Z untuk Padi dapat dipakai berkisar 3 – 5 liter/ha.

3. Manfaat Pada Tanaman Jagung.
Penerapan pada jagung telah dikembangkan dalam skala luas di Jawa Tengah, Teknologi ini telah mendongkrak hasil rata-rata panen petani daerah binaan teknologi dari 3 – 4 ton/ha menjadi 6 – 10 ton/ha (Panen telah dilakukan oleh Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan dan Bupati Grobogan Januari 2003). Keunggulan teknologi ini tampak memper-besar batang dan perakaran yang lebih banyak sehingga tanaman lebih kokoh dan tahan kekeringan. Disamping itu pada tongkol sekunder yang muncul hampir bersamaan dengan tongkol utama cenderung produktif sehingga akan menambah menjadi 2 atau 3 tongkol. Jagung yang sifat genetik bercabang respon Bio P2000Z dan cabang cenderung produktif hingga membentuk tongkol 5 – 6 tongkol/tan, berarti produksi akan berlipat.

4. Manfaat Pada Tanaman Kedelai.
Penerapan pada Kedelai Teknologi Bio P 2000 Z menjadi sangat diyakini masyarakat dan pemakai karena berasal dari penelitian dasar dan pengembangan penelitian serta telah dilakukan percobaan-percobaan yang intensif dan teliti dalam skala ekonomis maupun laboratorium. Di Balai pelatihan transmigrasi Kalteng aplikasi teknologi ini terbukti membooster produktivitas kedelai rata-rata 3,4 ton/ha dari hal yang dianggap mustahil sebelumnya pada tanah yang didominasi pasir kuarsa. Uji coba lanjut yang dilakukan bersama petani di kebun percobaan dihasilhkan rata-rata dari petak perlakuan sebesar 2,5 – 6,5 ton/ha (telah di ekspose Sinar Tani edisi 17 Maret 1999). Pembuktian teknis oleh penemunya di lahan masam gambut, sulfat masam dan berpirit di PLG Kapuas telah teruji sejak tahun 1998-2000, mampu melipatgandakan produksi lebih dari 250% dari rata-rata setempat. Bahkan di lahan kritis yang memiliki tipe tanah marginal pasir kuarsa (di Palangka Raya dan UPT Sei Gohong), teknologi ini mampu memberikan hasil produksi dengan kisaran hasil mencapai 3,8 ton/ha jauh lebih tinggi dari hasil cara konvensional (umum petani) hanya mampu 0,4 – 0,6 ton/ha. Pada tipe lahan sejenis, peningkatan produksi juga tercapai oleh petani di Gagutur, Barito Selatan (Kalteng).

BAGAIMANA CARA BUDIDAYA KEDELAI DENGAN TEKNOLOGI BIO PERFORASI (BIO P 2000 Z) ?
Hasil produksi Riil dari penanaman bulan Juni 2000 di lahan Gambut PLG Kapuas Kalteng dan lahan pasang surut bergambut Masuji-Lampung telah dipanen oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dengan produksi rata-rata 2,5 ton/ha hingga mencapai 5,1 ton/ha dari penanaman 300 ha yang tersebar di dua kawasan transmigrasi di atas; dan di Air Kubang Padang, Musi Banyuasin – Palembang pada lahan pasang-surut mampu menghasilkan 4,2 ton/ha sementara bila dibandingkan rata-rata umum produksi konvensional di PLG hanya 0,6 – 0,8 ton/ha. Di Majalengka (2001) 3,2 – 3,8 ton/ha; potensi di hamparan perak Sumut 3,5 – 5 ton/ha dari rata-rata umum setempat 0,8 – 1 ton/ha serta panen di Tanjung Morawa-Deli Serdang (Sumut, 21 juni 2001) berhasil di ubin oleh wakil gubernur mencapai panen dengan hasil 2,58 – 4,16 ton/ha pada varietas kedelai lokal kipas putih. Untuk kedelai edamame basah, potensi yang dihasilkan 8 -11 ton/ha dibanding rata-rata umum petani 4 – 5 ton/ha basah (hasil penerapan di parung-bogor).
Di Jambi (Agustus 2002) di Tanjung Jabung Timur (Eks. Transmigrasi), telah di Panen Gubernur Jambi hasil rata-rata mencapai 3,5 ton/ha (2,6 ton/ha – 4,6 ton/ha) dari kedelai uji coba 100 Ha bahkan teknologi ini telah diterapkan oleh petani diuntuk ternak, ikan dan tanaman lainnya.

Di Musi Rawas (eks daerah transmigrasi) telah dilakukan demfarm bersama LIPI dan Pemda setempat yang dipanen pada tanggal 23 Juli 2004 oleh Dirjen BP.Tan Pangan, Ketua LIPI, Yayasan Adamalik Centre menunjukkan hasil produktivitas yang tinggi yaitu 2,5 ton/ha – 3,3 ton/ha lebih tinggi dari cara biasanya yaitu 0,8 – 1,2 ton/ha. Atas keberhasilan ujicoba ini maka Bupati Musi Rawas mencanangkan penanaman kedelai 1000 ha di daerah tersebut saat ini.

Bersama Deptan RI dalam program Proksi Mantap dan Bangkit Kedelaisejak tahun 2002 telah dilakukan pengujian teknologi produktivitas ini seperti di BBI Bedali Lawang Malang, Bio P 2000 Z diujicobakan pada varietas kedelai Slamet, Willis, Mahameru dan Anjasmoro, ternyata menunjukkan peningkatan hasil 200 % dari control yaitu rata-rata 3,1 ton/ha. Ujicoba maupun uji komersial lain juga telah dilakukan di daerah-daerah sentra kedelai dan daerah transmigrasi seperti di Jawa Timur ( 1.300 Ha), Jagung di Grobogan Jateng 3000 Ha, di Lombok NTB, Andonara NTT, Gorontalo, Makassar (Sulsel), Sulawesi Tengah (Luwu), Maluku Tengah, Nabire dan Merauke (Papua) yang semuanya menunjukkan pelipat gandaan hasil yang significan.

Bio Perforasi memberi harapan pada peningkatan produksi kedelai mencapai 5 – 6 ton/ha dalam skala terbatas jika penerapan kaidah teknologi dengan tepat. Dalam kondisi terkontrol penerapan Teknologi Bio P 2000 Z dapat mengeksitasi pertumbuhan dan produksi kedelai lokal tinggi mencapai 2,8 – 3,2 meter (seperti pohon) dengan lebat polong 1800 – 2300 polong/tanaman; pada tahun 2003 berhasil dikembangkan kembali pada kedelai lokal sehingga mencapai ketinggian tanaman 4,5 Meter dan kedelai edamame 2,40 Meter dengan buah yang cukup lebat. Dibanding teknologi konvensional di lokasi yang sama kedelai lokal ini hanya: tinggi= 6,5 cm dan polong= 20–75 polong /tanaman, dan untuk kedelai edamame hanya setinggi 40 – 55 cm dengan buah kurang dari 50 polong per tanaman.
Efek lain yang bersahabat dari teknologi Bio-Perforasi ialah terhadap lingkungan tanah dan tanaman. Bersama dengan mikro-biota indegenus, pupuk hayati Bio-Perforasi yang diintroduksikan ke tanah serta permukaan daun dan ranting membentuk keseimbangan ekologi baru dengan meredam aktivitas mikro-organisme patogen yang tidak diinginkan, tetapi memicu performa mikro-organisme bersahabat. Keseimbangan ekologi baru ini sangat kondusif bagi tumbuh kembang tanaman, tetapi juga aman bagi kehidupan lain.

D. Penerapan Teknologi Bio P 2000 Z dan Cara Aplikasinya di Daerah Transmigrasi

Pupuk hayati Bio P 2000 Z adalah miniatur pabrik pupuk di alam (Bio Fabrikasi pupuk) yang terkendali dan bukan sekedar penyubur ataupun pupuk daun. Larutan Bio P 2000 Z merupakan kultur biang mikroba unggul berguna bagi tanah dan kehidupan di dalamnya (tanaman, hewan dan jasad renik) yang bekerja melalui prinsip dan kaidah Bio Perforasi, menggerakkan kesetimbangan bio-mikro ekologi, nutrisi, dan energi yang berguna bagi tumbuh kembang yang positif kehidupan produktif.

1. Cara menggunakan Bio P 2000 Z Untuk Tanaman
Konsentrat biang Bio P 2000 Z dapat diencerkan 200 kali secara garis besar sebagai berikut :
a. Larutkan 1 kg urea dan 1 kg gula tebu (gula tebu, tetes, gula pasir) dalam 200 liter air baru kemudian masukkan 1 liter Biang Bio P2000Z dengan diaduk rata; selanjutnya difermentasikan selama 48 jam (2 hari) didalam jerigen/drum yang ditutup rapat, Hasil fermentasi kemudian siap digunakan untuk penyemprotan maupun penyiraman tanaman.

Cara lain adalah cara fermentasi padat, yaitu: Dalam jerigen yang berisi 20 liter air bersih ditambahkan gula 1 kg dan urea 1 kg lalu diaduk rata, baru kemudian masukkan biang Bio P 2000 Z 1 liter dan dicampur rata, lalu jerigen ditutup rapat selama 48 jam. Hasil fermentasi setiap 1 – 2 liter ditambahkan 15 liter air bersih dalam handsprayer dan siap digunakan untuk menyemprot/menyiram tanaman.
b. Semprotkan merata ke seluruh bagian tanaman (trutama jaringan muda). Jika hasil penyemprotan sebelumnya terlalu subur untuk pertumbuhan, maka dosis urea selanjutnya dikurangi
c. Saat penyemprotan dapat tambahkan ke dalam sprayer pestrisida non fungisida/bakterisida maupun pupuk organik cair sesuai dosis aturan pakainya.
d. Waktu yang tepat untuk penyemprotan adalah saat sinar matahari tidak kuat (pagi/sore/petang hari), daun segar (tidak layu) atau daun lembab/kebasah-basahan oleh embun/gutasi.

2. Cara Penggunaan pupuk Bio P 2000 Z Untuk Tanah
Pupuk hayati Bio P 2000 Z disemprotkan/disiramkan pada tanah bersamaan dengan waktu pengolahan tanah yaitu 3-5 hari sebelum sayuran dan tanaman pangan musiman di tanam, untuk meningkatkan kesuburan dan stabilitas tanah (penetral pH dan racun tanah). Bio P 2000 Z yang disemprotkan adalah larutan fermentasi selama 12 – 48 jam (terbaik/optimal 48 –72 jam) hasil pengenceran 100 – 200 kali Bio P 2000 Z (yaitu hasil larutan 100-200 liter Air : 1 liter Bio P 2000 Z : 1 kg Gula : 1-1.5 kg urea). Jika tanaman sudah tertanam, maka penyemprotan tanah dilakukan 5 – 6 Hst (atau bersamaan waktu penyulaman). Penyemprotan dilakukan saat sinar matahari tidak kuat/terik. Kondisi tanah yang baik dalam keadaan lembab/basah atau setelah diairi/hujan kecil namun tidak becek/banjir dan gembur. Penyiraman yang dilakukan bersama aplikasi pupuk dasar atau pupuk kandang atau N:P:K, pada tanaman perkebunan/ hortikultura memberikan hasil pertumbuhan yang lebih baik.

Tahapan/Cara pembuatan fermentasi dan ciri hasil fermentasi yang benar
1. Persiapkan bahan-bahan (Bio P 2000 Z, Urea, dan gula tebu dan bahan organik cair).
2. Sediakan alat (sendok/takaran, kayu pengaduk, tempat air, dan jrigen, drum/plastik roll, dll).
3. Urea dan gula sesuai ukuran komposisi dilarutkan dahulu dalam air bersih, selanjutnya masukkan ke dalam jumlah air yang akan difermentasi, kemudian biang Bio P 2000 Z. (Pelarutan gunakan pengaduk kayu yang dicuci bersih jangan pakai tangan, dan gunakan drum fermentasi yang dicuci bersih dan kering atau plastik). Paling ideal gunakan gentong tanah liat.
4. Tutup rapat agar tidak ada lagi udara masuk-keluar selama fermentasi di tempat teduh atau dalam tanah, jika pembuatan di lahan langsung dapat dalam bentuk sumur dilapisi kantong plastik (di bawah pohon).
5. Fermentasi yang berhasil setelah 48 jam dicirikan: bau harum kemasaman, timbul gas dan berkeringat, ada lapisan permukaan air, didinding menempel lapisan putih dan bergelembung halus jika di aduk, warna berubah keruh (agak putih).
6. Setelah fermentasi berhasil, saat akan disemprotkan dapat diperkaya nutrisi pupuk organik cair; dan jika ada serangan hama dapat dicampur pula dengan pestisida (dilarang aplikasi bersama bakterisida/fungisida dan pestisida bahan logam alkali kuat).
7. Penyemprotan yang terbaik adalah sore petang hari atau malam hari.

Pembuatan pupuk Organik dari kotoran ternak (ayam).
1. Buat perbandingan 1:1 (kotoran ayam/pupuk kandang dengan air dan diaduk); tambahkan 15 %-nya air perasan bekatul, dan 0,6 % Mineral N,P,K + 0,6 % gula tebu dan 0,5 % Bio P2000Z dari jml perb. di atas.
2. Fermentasikan selama 7 – 18 hari hingga bau asli kotoran hilang, selanjutnya gunakan air saringannya untuk campuran penyemprotan/penyiraman tanaman dengan pengenceran air 10 – 20 kali, diaplikasikan bersama dengan hasil fermentasi Bio P 2000 Z untuk meyuburkan tanaman. Sisa kotoran/Ampas, sangat baik untuk pupuk tanaman agar tanaman cepat berbuah dan menyuburkan tanah.

3. Manfaat Penggunaan dan Aplikasi Pupuk Hayati BIO P 2000 Z
a. Untuk Tanaman :
1. Meningkatkan dan melipat gandakan hasil panen
2. Memicu produksi maksimal sesuai sifat unggul tanaman
3. Meningkatkan kesehatan dan toleransi ketahanan tanaman
4. Memicu fotosintesis jalur hill hijau daun secara efisien
5. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemupukan
6. Memacu Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif Tanaman, seperti:
a. Mempercepat dan memperbanyak terbentuknya bunga yang membentuk buah produktif
b. Memperbanyak tunas dan cabang produktif
c. Daun lebih subur-hijau, lebat dan lebih lebar kekar
d. Pertumbuhan cepat, ruas tanaman lebih banyak
e. Mempercepat pemulihan luka dan kekebalan dari serangan hama
f. Memperbanyak dan menumbuhkan akar lebih panjang dan kuat
g. Memperbanyak dan mempercepat pertumbuhan bunga dan buah buah.

b. Untuk Tanah :
a. Menstabilkan tanah, meningkatkan pH secara alami (mikrobiologis) meningkatkan kesuburan fisik, kimia dan biologi yang berimbang dan berkelanjutan
b. “Bio Fabrikasi hara” secara mikrobiologis yang memperkaya ketersediaan unsur hara/nutrisi lengkap dan berimbang dalam tanah, bermanfaat bagi tanah marginal/kritis.
c. Mempercepat terurainya residu pupuk kimia penghambat menjadi bermanfaat dan tersedia bagi tanaman .
d. Meredam/menetralkan anasir penghambat dalam tanah baik dari logam beracun, alkali, lagam/gas tereduksi beracun yang menggangu pertumbuhan tanaman
e. Mendukung kehidupan ekologis bersinergi dengan mikroba berguna indogenus penyubur tanah, Sangat baik untuk persiapan perkebunan dan reclamasi.

CARA APLIKASI :
 BIO P 2000 Z disemprotkan pada seluruh bagian tanaman secara merata terutama pada jaringan yang aktif/muda.
 BIO P 2000 Z dapat di aplikasikan bersama dengan Pestisida sesuai petunjuk; tetapi tidak dapat diaplikasikan bersama pestisida alkali dan PH sangat masam, fungisida dan bakterisida.
 BIO P 2000 Z dapat diaplikasikan dengan pupuk organic cair seperti Seprint atau Super Flora, floran dll, yaitu dicampurkan saat akan menyemprot di tanaman.

SYARAT FERMENTASI:
 Alat seperti pengaduk dan wadah (drum, plastik gentong dll) harus bersih. Sebaiknya dihindari pemakaian bahan dari logam.
 Bahan baku seperti air sebaiknya air yang bersih (syarat minimal air pertanian)
 Tempat fermentasi ditempat yang teduh atau di dalam tanah atau terlindung dari cahaya/sinar matahari langsung di dalam wadah yang tertutup rapat.
 Pencampuran bahan seperti gula, urea dilarutkan dahulu dalam air yang akan diberi biang Bio P 2000 Z baru dilarutkan biang ke dalamnya dan diaduk rata dengan alat pengaduk yang bersih.

CIRI FISIK FERMENTASI BERHASIL/NORMAL:
 Timbul gas dan wadah menggelembung dan menjadi berkeringat; Timbul bau harum (aromatis) kemasaman; warna larutan keruh; jika digoncang/diaduk/dituang timbul gelembung gas kecil-kecil dari larutan; rasa larutan agak sepet masam; terdapat lapisan kepputihan baik di permukaan larutan maupun di dinding wadah fermentasi.

CIRI FISIK FERMENTASI YANG GAGAL :
 Warna larutan tidak berubah (tetap jernih); Tidak berbau
 Jika bau menjadi busuk, berarti banyak mikroba yang mati karena: kelamaan fermentasi (> 6 hari); dicampur langsung dengan bahan pupuk beracun atau dengan fungisida atau bakterisida atau pestisida lain; atau air yang digunakan beracun tinggi; atau wadah fermentasi tercemar bahan-bahan anti fermentasi seperti oli tinggi, zat kimia anti bakteri atau jamur.

Phone
Whatsapp