Pembuktian BioP 2000Z Di Lapangan

Teknologi Bio Perforasi teruji dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam melipat gandakan produksi dan dapat berlaku secara general untuk semua jenis tanah dan tanaman baik pangan, hortikultura dan perkebunan bahkan ternak maupun ikan. Teknologi Bio Perforasi memiliki keunggulan lintas komoditi, lintas ekologi dan lintas teknologi. Penerapan secara tepat mampu dan telah teruji memberikan peningkatan produksi rata-rata mencapai 4,12 ton/ha.

Dari hasil pengembangan penelitian dan percobaan-percobaan yang intensif dan teliti, seperti Balatrans Kalimantan Tengah mencapai produksi rata-rata 3,4 ton/ha dan hasil uji coba lanjut yang dilakukan bersama petani, hasil rata-rata petak perlakuan 2,5 – 6,5 ton/ha ( ekspose Sinar Tani edisi 17 Maret 1999 ). Penerapan oleh penemunya di lahan masam gambut, sulfat masam dan berpirit di PLG Kapuas yang diujikan sejak tahun 1998 – 2000 mampu melipatgandakan produksi lebih dari 250%. Bahkan di lahan kritis yang memiliki tipe tanah marginal pasir kuarsa ( di Palangka Raya dan UPT Sei Gohong ), teknologi ini mampu memberikan hasil produksi dengan kisaran hasil mencapai 3,8 ton / ha jauh lebih tinggi dari hasil cara konvensional ( petani umumnya ) hanya mampu 0,4 – 0,6 ton / ha. Pada tipe lahan sejenis, peningkatan produksi juga tercapai oleh petani di Gagutur, Barito Selatan ( Kalteng ). Kemampuan produksi hasil penanaman Juni 2000 di lahan Gambut PLG Kapuas dan lahan pasang surut bergambut Masuji – Lampung ( dengan produksi 2,5 sampai 5,1 ton / ha, dan di Palembang 4,2 ton / ha ) dibanding sebelumnya rata-rata umum produksi konvensional di PLG 0,6 – 0,8 ton / ha. Di Majalengka ( 2001 ) 3,2 – 3,8 ton / ha; di hamparan perak Sumut 3,5 – 5 ton / ha dari rata-rata umum setempat 0,8 – 1 ton / ha serta panen di Tanjung Morawa – Deli Serdang ( Sumut, 21 juni 2001 ) berhasil mencapai panen dengan hasil 3,58 – 4,16 ton / ha pada varietas kedelai kipas putih. Untuk kedelai edamame basah, potensi yang dihasilkan 8 – 11 ton / ha dibanding rata-rata umum petani 4 – 5 ton / ha (hasil penerapan di parung – bogor).

Pada sayuran daun: caisin, pakcoi, dan kailan hasil yang diperoleh petani sayur di Jakarta utara adalah 3,5 kg / m2 bahkan lebih, meningkat 300% lebih tinggi dibanding yang tidak menggunakan pupuk Bio P 2000 Z yaitu 1,2 kg / m2. Peningkatan produksi spektakuler dicapai pula untuk peningkatan bobot tanaman sayuran maupun tanaman buah-buahan, memperpendek umur panen sayuran, dan memperpanjang waktu panen pada tanaman yang dipanen lebih dari sekali.

Bio Perforasi Plus memberi harapan pada peningkatan produksi kedelai mencapai 5 – 8 ton / ha jika petani telah mampu menerapkan kaidah teknologi dengan tepat. Teknologi ini dikuatkan dengan kenyataan kemampuannya untuk dapat mengeksitasi pertumbuhan dan produksi kedelai Indonesia lokal tinggi mencapai 2,8 – 3,2 meter ( seperti pohon ) dengan lebat polong 1800 – 2300 polong / tanaman, dibanding sebelum intervensi teknologi hanya: tinggi = 6,5 cm dan polong = 20–75 polong/tanaman. Pada tingkat keberhasilan tersebut maka diprediksikan kemampuan produksi kedelai dengan teknologi ini memiliki potensi 14 ton / ha – 30 ton/ha dan secara matematis berdasarkan populasi optimalnya mampu mencapai 50 ton / ha. Ternyata dengan teknologi Bio Perforasi masalah tersumbatnya produksi pada komoditi pertanian dapat dipecahkan. Cepat dikenalnya teknologi Bio P 2000 Z dan tersosialisasinya penerapan teknologi ini secara disiplin oleh petani secara langsung berdampak meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani. Dengan tercapainya swasembada kedelai, pangan dan hortikultura lain di Indonesia, secara teknis maupun ekonomis sudah pasti lebih memberikan manfaat dan kesejahteraan petani serta prospek dalam usaha agribisnis bangsa.

Terhadap kelestarian lingkungan telah terbukti memberikan sumbangsih nyata dalam rangka menghijaukan dan memproduktivitaskan kembali lahan tidur seperti lahan Gambut, Lahan pasir kuarsa serta untuk tujuan rekalamasi lahan bekas pertambangan. Pada lahan gambut teknologi ini mampu menjadikan lahan yang terabaikan menjadi sangat ideal untuk pertanian dan lebih produktif dari lahan mineral yang lain. Bahkan,
mampu mengubah gambut menjadi pupuk alami yang sangat ideal baik secara biokimia maupun fisik
untuk memproduktifkan lahan-lahan marginal seperti lahan pasir, lahan PMK, lahan yang beracun lain menjadi berarti untuk usaha pertanian produktif. Teknologi Bio Perforasi sebagai solusi mengatasi pembatas produktivitas yang esensial dan sebagai pembuka jalan menuju revolusi / loncatan produksi ( pangan ) bagi kesejahteraan umat.

Phone
Whatsapp