Meningkatkan Produktivitas Pertanian dengan Teknologi Mikroba Google

Meningkatkan produktivitas pertanian dengan introduksi teknologi adalah cara yang paling efektif untuk memberantas kemiskinan. PDB yang berasal dari sektor pertanian terbukti ”empat kali lipat lebih efektif” lebih berarti dibanding dengan sektor lain dalam mengurangi kemiskinan di negara berkembang seperti Indonesia. Memberikan teknologi kepada petani untuk swasembada dan mandiri pangan pada dasarnya adalah upaya meningkatkan produktivitas pertanian di daerah-daerah tertinggal agar menjadi solusi bagi upaya peningkatan kesejahteraan petani tradisional, pengentasan kemiskinan dan penyerapan lapangan kerja. Namun peningkatan produktivitas di lapangan banyak menghadapi hambatan diantaranya terhambatnya tumbuh kembang komoditi tanaman yang diusahakan dan kesuburan lahan semakin menurun sehingga biaya produksi meningkat. Disamping faktor alam menjadi pembatas, rendahnya produktivitas merupakan akibat dari penguasaan teknik budidaya yang terbatas, penerapan teknologi yang sepotong-sepotong, bahkan paket teknologi yang diberikan kurang dapat dipahami oleh petani pengguna sehingga hasil yang optimal sulit dicapai.

Kendala teknis dalam peningkatan produksi di lapangan antara lain karena sifat dan jenis tanah media tanaman, ketidakseimbangan penyediaan dan penyerapan hara oleh efek keracunan tanaman, sulit tersedia dan miskinnya hara
tertentu tanaman seperti pada tanah bersifat asam, tanah gambut, tanah pasir dan tanah mineral beracun. Secara
konvensional diatasi dengan pencucian melalui air irigasi dan pembakaran lahan (gambut), tetapi menuntut adanya
biaya besar untuk membangun jaringan saluran dan beresiko terjadinya erosi dan kehilangan unsur hara
esensial akibat pencucian.

Tanah bertipe pasir kuarsa secara konvensional mustahil dapat dijadikan tanah pertanian. Pertama, karena tanah itu miskin hara, kedua sangat sarang (porous), ketiga tidakmemiliki kemampuan menyerap (menahan) hara, dan keempat peka erosi. Rentetan upaya seperti dengan memasok bahan organik sebagai sumber bio-energi dan mengelola dengan
bijak, mengatur tata air tanah, mengembangkan kehidupan biologi tanah, menyeimbangkan kesuburan kimia tanah, dan menjaga tanah dari bahaya erosi terasa sangat mahal. Tanah kaya mineral pirit yang kalau penanganannya keliru berubah menjadi tanah sulfat masam yan mengandung berbagai unsur kimia yang mencapai tarap beracun seperti sulfida, sulfat, aluminium, mangan, besi dan berbagai senyawa organik berbahaya bagi tumbuh kembang tanaman. Tanah sulfat masam dapat dijadikan produktif apabila sifat-sifat buruk itu dapat diredam. Namun, untuk menjadikan tanah sulfat masam menjadi produktif juga memerlukan biaya yang mahal.

Lahan usaha yang sempit oleh petani khususnya di Pulau Jawa (rata-rata 0,2 – 0,4 ha/KK) memaksa petani harus mendapatkan produktivitas tinggi agar pendapatan yang diperoleh dari luasan yang sempit tersebut lebih banyak. Cara konvensional untuk mendapatkan hasil yang maksimal adalah dengan memberi input pupuk dan pestisida kimia maksimal yang cenderung melebihi daya dukung lingkungan, justru mempercepat kemerosotan produksi. Berbagai macam teknologi seperti pemupukan kimia dan hayati pada kenyataannya hanya menyelesaikan permasalahan yang parsial pada tanaman maupun tanah. Revolusi hijau dengan cara kimiawi telah membawa dampak yang mengkhawatirkan produksi, kelangsungan hidup dan kelestarian lingkungan di masa depan. Residu racun kimia dalam pangan hasil budidaya telah banyak mengganggu kesehatan dan menimbulkan berbagai penyakit bagi hewan maupun manusia yang mengkonsumsinya

Permasalahan pokok ini perlu ada loncatan teknologi pertanian yang mampu memberikan peningkatan produksi yang berlipat ganda secara berkelanjutan; tetap menjaga mutu dan keutuhan lingkungan agar selalu mampu mendukung tumbuh kembang tanaman secara ideal tanpa membahayakan lingkungan hidup dan mahluk lain di muka bumi. Kunci solusi masalah ini adalah perlu terobosan teknologi yang mampu menciptakan keseimbangan alami secara ekologis
dalam lingkungan usaha pertanian yang meningkatkan daya dukung lingkungan, mampu memenuhi kebutuhan
tumbuh kembang tanaman agar dapat berproduksi maksimal melalui pemberian input yang optimal ke dalam
lingkungan tumbuh tanaman. Teknologi semacam ini adalah teknologi yang bekerja secara holistic memperbaiki dan meningkatkan kualitas tanah dan tumbuh kembang maksimal tercapai dan berkelanjutan. Sebagai jawaban terhadap tantangan tersebut di atas dirancang sebuah teknologi di luar rekayasa genetik (non konstelasi genetik tanaman ) yaitu Teknologi Bio Perforasi yang aplikasinya telah ditemukan ramuan pupuk hayati Bio P 2000 Z yang dikenal dengan teknologi “Mikroba Google”.

Phone
Whatsapp