Cara Beternak Sapi

Sapi sebagai salah satu hewan pemakan rumput sangat berperan sebagai pengumpul bahan bergizi rendah yang dirubah menjadi bahan bergizi tinggi, kemudian diteruskan kepada manusia dalam bentuk daging. Daging untuk pemenuhan gizi mulai meningkat dengan adanya istilah ”Balita” dan terangkatnya peranan gizi terhadap kualitas generasi penerus.
Jadi untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani dari daging ini kita khhususnya peternak perlu meningkatkan [roduksi daging. Perkembangan usaha penggemukan sapi didorong oleh permintaan daging yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun.

Ternak sapi adalah kegiatan mengasuh, merawat dan memproduksi sapi. Sapi sendiri adalah hewan mamalia ruminansia yang telah dimuliakan sehingga dapat diasuh di lingkungan manusia. Ruminansia adalah hewan herbivore (pemakan tumbuhan) yang memamah biak, dan memamah biak berarti memproses makanan di dalam mulut sebanyak dua kali pada waktu yang berbeda, sapi mengunyah hijauan makanan ternak sebanyak dua kali dimana setelah merumput sapi akan menyimpan rumput tersebut selama beberapa waktu di dalam salah satu lambungnya dan beberapa lama kemudian rumput tersebut akan dikeluarkan dari dalam lambung menuju mulut dan dikunyah kembali. Hewan yang tergolong dalam ruminansia adalah; sapi, kerbau, kuda dan kambing. Ternak sapi juga termasuk mamalia karena sapi menyusui anaknya, hewan ternak yang tergolong mamalia ini sangat banyak seperti; sapi, kerbau, kambing, kuda, babi, kucing, dan anjing. Sapi tergolong dalam hewan besar bersama-sama deengan hewan ternak lainnya yakni kerbau dan kuda.

Ternak sapi sebagai usaha diatur dalam perundang-undangan Veterinier, undang-undang tersebut menyangkut skala usaha ternak sapi, lokasi usaha ternak sapi, peraturan perdagangan ternak sapid an peraturan pemotongan tenrnak sapi. Jadi sebelum kita hendak membuka usaha peternakan budidaya sapi sebaiknya perhatikan dan baca terlebih dahulu peraturan-peraturan pemerintah menyangkut aturan budidaya sapi, terutama ternak sapi dalam skala sedang hingga besar. salah satu undang-undang yang mengatur tentang peternakan dapat and abaca U.U. No. 18 Thn 2009.

Produksi ternak sapi berdasarkan kegunaan ada tiga yakni; peroduksi daging, produksi susu dan produksi tenaga kerja. Selain produk utama itu ada juga produk sampingan dari ternak sapi ini yakni kulit, tulang, tanduk dan kotoran. Usaha ternak sapi ini hasilnya sangat menjanjikan banyak bukti yang dapat dilihat di sekitar kita terutama yang tinggal di pedesaan, banyak sekali penduduk yang membangun rumah atau membeli mobil berkat menjual sapi yang mereka asuh selama ini.

Ternak sapi yang tujuan utamanya menghasilkan daging sering disebut dengan sapi potong atau sapi pedaging dan yang konsentrasi dalam menghasilkan susu disebut dengan ternak sapi perah. Jenis-jenis sapi yang baik diasuh sebagai sapi potong adalah; semua sapi lokal seperti; sapi bali, sapi pesisir, sapi aceh dan madura, sapi unggul seperti; limousine, Simmental, angus, Brahman, brangus, ongole, sapi PO, charolise dan lain-lain. Jenis sapi yang baik dibudidayakan sebagai ternak sapi perah di Indonesia adalah sapi FH dan Jersey.
Tahukah anda bahwa sapi Simmental di Negara asalnya juga dijadikan sebagai sapi perah?
ya pada dasarnya Simmental merupakan ternak sapi yang bertipe dwiguna, dapat dijadikan sebagai ternak sapi potong dan juga sapi perah.

Selain usaha ternak sapi potong dan perah saat ini juga banyak berkembang usaha ternak sapi yang berkonsentrasi memproduksi pedet (anak sapi) saja. Istilah untuk usaha seperti ini mungkin bisa kita sebut usaha pengembang biakan ternak sapi. Apakah usaha seperti ini memiliki nilai ekonomis? berdasarkan berbagai analisa yang telah dilakukan ternyata usaha ternak sapi yang khusus memproduksi pedet ini juga sangat menjanjikan. Harga pedet sapi potong saat ini berkisar 4 – 9 juta sedangkan pedet sapi perah berkisar 6 – 8 juta per ekor. Seekor sapi dapat memproduksi anak sapi sebanyak 1 ekor per tahun. Pada peluncuran program bantuan ternak sapi tahun 2010 usaha pengembang biakan ini sudah mulai diikutkan sebagai salah satu jenis bantuan, dengan syarat penerima bantuan harus mengajukan proposal.

MEMILIH JENIS SAPI

Sapi-sapi lokal yang terdapat di Propinsi Banten kesemuanya dapat digunakan untuk usaha penggemukan. Akan tetapi tidaklah semua jenis sapi itu mempunyai prospek yang sama untuk digemukkan. Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menentukan jenis sapi yang lebih prospektif untuk digemukkan.
Indikator-indikator tersebut adalah :
a. Jumlah populasi
b. Jumlah pertambahan populasi setiap tahun
c. Penyebaran
d. Produksi karkas dan
e. Efisiensi penggunaan pakan
Jenis-jenis sapi potong yang biasa dipelihara adalah : sapi Bali, sapi Madura, sapi Ongole, sapi Peranakan ongole, sapi Charolois, sapi Hereford, sapi Brangus dan lain-lain akan tetapi bukan sapi lokal yang bukan hasil persilangan.

PEMELIHARAAN DAN UKURAN KANDANG

Dibandingkan dengan kandang sapi milik petani di Eropa, maka kandang sapi petani-petani di Propinsi Banten walaupun hanya terdiri dari tiang bambu, atap rumbia dan lantai yang dipadatkan, tetapi cukup baik. Ini disebabkan karena petani di Propinsi Banten hanya memilik sapi antara 3-4 ekor, dimana sapi-sapi tersebut hanya pada malam hari saja dipelihara dalam kandang, sedang pada siang hari ternak diikat di halaman rumah karena tidak dikerjakan atau digembalakan.

Setiap pagi bilamana sapi sudah dikeluarkan, maka kotoran dalam kandang dibersihkan bersama-sama sisa makanan diangkut dan dimasukkan ke dalam lubang yang telah disediakan, untuk kemudian dijadikan pupuk, sedang bekas-bekas urine disiram dengan abu dari api unggun. Tentang tempat makanan untuk ternak petani di Propinsi Banten tidak membutuhkan perlengkapan, oleh karena makanan yang diberikan adalah rumput, daun-daunan dan jerami, tidak pernah dan jarang sekali diberikan makanan konsetrat, kecuali sapi-sapi yang digemukkan. Makanan cukup diletakkan di tanah, bila perlu dibatasi dengan palang-palang dari bambu atau kayu.
Kandang untuk sapi potong hendaknya dibuat dari bahan-bahan yang murah tapi kuat, keadaannya harus terang dan pertukaran udara bebas. Atap dari genting/rumbia/ilalang. Lantai sebaiknya disemen atau sekurang-kurangnya tanah dipadatkan.

MAKANAN

Sapi-sapi petani di Propinsi Banten diberi makan rumput, daun-daunan atau jerami. Umumnnya secara kualitas maupun kuantitas makanan sapi-sapi itu cukup baik. Ini dapat dilihat dari keadaan sapi-sapinya yang cukup segar, gemuk dan kesehatan baik.
Bila dipandang perli petani di Propinsi Banten menyediakan makanan untuk musim kemarau. Biasanya petani menyimpan jerami, penyimpanan makanan ini tidak perlu banyak karena ternak yang dipelihara hanya sebanyak 3-4 ekor.

Pakan untuk sapi potong dapat dikelompokkan menjadi :

A. Hijauan
Hijauan yang berkualitas baik (rumput unggul atau campuran rumput dengan hijauan kacang-kacangan) umumnya sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertunbuhan dan reproduksi yang normal sehingga pada pemeliharaan sapi dianjurkan lebih banyak menggunakan hijauan (85-100%), apabila hijauan banyak tersedia, pemberian konsentrat hanya dianjurkan untuk keadaan tertentu saja seperti saat sulit hijauan (di musim kemarau) atau untuk penggemukkan.

Contoh hijauan unggul :
-Rumput setaria
– Rumput gajah (Pennisetum purpureum)
– Rumput raja (Kinggrass)
– Rumput benggala (Panicum maximum)
– Rumput bede (Brachiaria decumbens)
– Lamtorogun(Leucaena leucocepala)
– Turi (Sesbania grandiflora)
– Gamal (Gliricidia maculata)
– Kaliandra

Contoh hijauan limbah pertanian :
– Jerami kacang panjang
– Jerami kedelai
– Jerami padi
– Jerami jagung

B. Konsentrat
Contoh konsentrat :
– Dedak padi
– Onggok (ampas singkong)
– Ampas tahu
– Dan lain-lain

C. Makanan tambahan
Contoh : vitamin, mineral dan urea

Secara umum makanan untuk seekor sapi setiap hari sebagai berikut :
– Hijauan :35-47 kg atau bervariasi menurut berat dan besar badan
– Konsentrat : 2-5 kg
– Makanan tambahan : 30-50 gram

KESEHATAN

Salah satu unsur perawatan yang juga tidak boleh diabaikan adalaj penjagaan kesehatan termasuk pula pencegahan masuknya penyakit ke peternakan.
Berbagai jenis penyakit pada sapi yang sering berjangkit baik yang menular ataupun yang tidak menular. Penyakit menular yang terjangkit pada umumnya menimbulkan kerugian besar bagi peternak dari tahun ke tahun ribuan ternak sapi menjadi korban penyakit radang limpa (Anthrax), ribuan ternak sapi lainnya kemudian terkena serangan penyakit mulut dan kuku, serta penyakit surra.

Beberapa jenis penyakit yang sering terjadi pada sapi potong adalah :
a. Anthrax (radang limpa)
b. Penyakit mulut dan kuku
c. Penyakit surra
d. Penyakit radang paha
e. Penyakit Bruccellosis (keguguran menular)
f. Kuku busuk (foot ror)
g. Cacing hati
h. Cacing perut
i.  Dan lain-lain

Penanganan Mencret Pada Sapi
Penanganan mecret pada sapi menjadi sangat penting diketahui setiap peternak sapi potong maupun sapi perah, karena mengobati mencret sapi tidak bisa dilakukan dengan sembarangan terutama dalam pemberian antibiotic. Kebanyakan peternak sapi memberi obat manusia yang dibeli dari warung ketika sapi mereka mencret, adapun obat yang sering diberikan seperti entrostop, ciba dan lainnya. Secara ilmu kesehatan ternak pemberian obat manusia untuk hewan sangat salah.

Sapi adalah hewan ruminansia yang pencernaan makanannya dibantu oleh sejumlah bakteri, selain membantu pencernaan bakteri dalam tubuh sapi juga berguna sebagai sumber protein. Itulah sebabnya tidak dibenarkan memberikan antibiotic pada sapi secara asupan. Pemberian antibiotic secara asupan pada sapi dapat membunuh semua bakteri bermanfaat yang ada di dalam lambung dan usus sapi (saluran pencernaan), jika semua bakteri dalam saluran pencernaan sapi hiang maka bisa dipastikan sapi tersebut akan menjadi kurus. Inilah kesalahan yang sering dilakukan peternak sapi ketika melihat sapi mereka sakit (demam dan mencret).

Diagnosa mencret yang salah, peternak juga sangat sering melakukan kesalahan dalam mendiagnosa penyakit mencret pada sapi. Asal kotoran terlihat cair mereka sering menyimpulkan bahwa sapi mereka mencret, padahal kotoran yang cair bukanlah ciri utama dari mencret pada sapi, kotoran yang cenderung cair bisa saja karena pakan hijauan makanan ternak yang terlalu muda atau pemberian serat kasar yang kurang pada sapi. Adapun ciri utama penyakit mencret adalah:
1.    kawasan sekitar panggul sapi terlihat kotor oleh kotoran sapi yang mengering
2.    sapi sering mengangkat ekornya walaupun tidak membuang kotoran 9hal ini terlihat jelas pada anak sapi yang mencret)
3.    kotoran cenderung cair walaupun diberi pakan hijauan tua atau kering.
4.    nafsu makan berkurang
5.    bulu sapi terlihat kusam

Gejala sakit pada sapi memang lebih sulit diketahui dibandingkan gejala penyakit pada seorang bayi. Sapi tidak bisa berkomunikasi dengan pemiliknya (peternak) dengan bahasa mulut, sapi hanya bisa menunjukkan kondisi sakitnya dengan beberapa perilaku, yang sering disebut ilmu tingkah laku hewan. Secara alamiah sapi akan memberi reaksi setiap kali adanya penurunan kesehatan pada hewan ini. kejelian dari peternak merupakan kunci keberhasilan dalam manajemen kesehatan hewan ternak, kali ini kita akan membicarakan tentang demam dan ingusan pada sapi. Ingus-ingusan akan sering ditemui peternak pada sapi mereka, untuk itu penting diketahui arti dan penyebabnya.

Tidak selalu ingusan pertanda sakit pada sapi, ada kalanya ingusan itu hanyalah tanda sapi kelelahan. Secara umum memang jika ingus atau mucus keluar banyak darihidung atau mulut sapi adalah pertanda sapi tersebut kurang sehat. Untuk menentukan penyakit sapi tidak bisa dilihat hanya dari keluarnya ingus, hal lain harus juga diperhatikan seperti menurunnya nafsu makan, melenguh berkepanjangan, tingkat kegelisahan dan feces (kotoran sapi).

Berikut ini beberapa penyakit pada sapi yang ditandai dengan keluarnya ingus:
1.    Bovine Ephemeral Fever sering disingkat dengan BEF atau bahasa lokalnya sering disebut demam 3 hari. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh serangga sejenis lalat sebagai vector. Sapi yang terserang demam 3 hari akan mengeluarkan ingus tanda lainnya sapi merasa nyeri pada seluruh persendiannya sehingga tidak mampu berdiri, nafsu makan turun drastis, mengorok, produksi susu berhenti. Penyakit BEF pada sapi ini tidak termasuk penyakit sangat berbahaya, jarang ada kematian karena penyakit ini. pengobatan sebaiknya dihubungi petugas kesehatan hewan di tempat anda. Jika tidak ada petugas kesehatan hewan maka beri sapi tersebut antibiotic secara injeksi dan vitamin B.
2.    Penyakit ingusan, nama lain dari penyakit ini penyakit makan tanah dan dalam bahasa kesehatan hewan disebut Maligan Catrrahal Fever disingkat dengan MCF. Penyakit banyak ditemukan di Indonesia dan sifatnya menular. Penyakit ini disebabkan oleh virus sejenis virus herves. Diduga kuat penyakit ingusan ini ditularkan dari domba. Oleh karena itu ada baiknya memisahkan ternak domba dengan ternak sapi. Gejala penyakit ini ditandai dengan keluarnya ingus yang banyak dan demam tinggi pada sapi, kulit menebal dan mengelupas, moncong terlihat kering bahkan pecah-pecah dan bernanah. Penyakit ini sangat mematikan, oleh karena itu jika terlihat gejala diatas langsung hubungi petugas kesehatan hewan agar dapat melakukan perlakuan yang tepat. Biasanya petugas akan menganjurkan agar ternak tersebut dipotong saja, sebab belum ada obat untuk penyakit ini. penyakit ini bahkan bisa menular dari proses inseminasi buatan, terutama karena penggunaan alat Artificial Insemination yang kurang steril.
3.    Keluarnya ingus berkepanjangan juga merupakangejala awal penyakit mulut dan kuku. Penyebab penyakit ini adalah virus. Penyakit ini juga mampu menular dengan cepat, namun para peternak di Indonesia sebaiknya cukup tenang karena Indonesia sdah dinyatakan bebas dari penyakit mulut dan kuku ini.

Ada beberapa lagi penyakit sapi yang ditandai dengan ingusan, namun yang paling penting adalah kesigapan dari peternak dalam melaporkan kasusnya ke petugas kesehatan hewan, sebab petugas kesehatan hewanlah yang bisa dengan tepat membedakan antara BEF dengan MCF. Bila ternak tersebut hanya terkena demam 3 hari (BEF) maka sapi tersebut tidak perlu dipotong namun bila terkena MCF maka demi menghindari kerugian besar sebaiknya ternak segera dipotong.
Penanganan mencret pada sapi:
Sapi yang terkena mencret harus diberi antibiotik yang tepat dengan cara injeksi secara Intra Musculer (IM). Antibiotic yang tepat ini diketahui oleh petugas kesehatan hewan dan dokter hewan, baik secara dosis maupun jenis antibiotic yang harus diberikan pada sapi yang mencret. Sebaiknya peternak jangan pernah memberi antibiotic pada ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan kuda) secara asupan (meminumkan), hal ini untuk melindungi perkembang biakan bekteri yang ada didalam saluran pencernaan hewan ruminansia tersebut.

Pemberian obat alami (tradisional) untuk mencret.
Selain memberikan obat warung peternak juga sering memberikan obat tradisional ketika sapi mereka sakit, seperti ketika sapi mencret mereka memberi sari daun jambu. Belum ada uji klinis tentang khasiat daun jambu terhadap mencret pada sapi, namun dalam keadaan terpaksa peternak dibenarkan memberikan ramuan-ramuan tradisional untuk mengobati sakit pada sapi mereka. Keadaan terpaksa ini diataranya karena di daerah si peternak tidak terdapat petugas kesehatan hewan (dokter hewan). Selain daun jambu peternak juga biasa memberikan arang yang dicampur dengan air garam untuk mengobati mencret pada sapi.

PERKEMBANGBIAKAN

Pada usaha ternak sapi potong yang sistem produksinya untuk menghasilkan anak-anak sapi yang hampir sama umurnya dalam jumlah yang besar untuk dijual sebagai anak sapi (Feeder Cattle), maka perkawinannya dilakukan secara musiman,
Sapi potong mulai dewasa kelamin yaitu apabila mulai timbul oestrus (tanda-tanda birahi, bronst). Pada umur 8-12 bulan, tergantung pada bangsa-bangsa, makanan, dan lingkungannya.

Cara perkawinan pada sapi potong dapat dilakukan dengan pengaturan dan pengawasan sepenuhnya oleh manusia yang disebut cara ”Hand Mating” yaitu pemeliharaan jantan dan betina dipisah dan bila ada betina yang bronst, diambilkan pejantannya agar mengawininya atau dilakukan perkawinan buatan atau dengan cara perkawinan bebas di padang rumput. Dimana sapi-sapi jantan dan betina yang sudah dewasa pada musim perkawinan dilepas bersama-sama, bila ada sapi-sapi betina yang bronst  tanpa campur tangan si pemilik akan terjadi perkawinan.
Cara perkawinan inilah yang lazim dilakukan pada usaha sapi potong dimana perkawinan biasanya dilakukan secara musiman.

PENGOLAHAN HASIL

Beragamnya jenis produk olahan ternak dengan nilai tambah yang tinggi memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memilih berbagai alternatif. Jenis olahan dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan minat masyarakat. Dibandingkan dengan produk olahan memiliki daya tahan yang lebih lama sehingga dapat mengurangi resiko akibat perubahan harga. Selain itu, dalam upaya turut menjaga kelestarian lingkungan, pengolahan produk sampingan seperti kulit, tulang dan darah dapat mengurangi resiko pencemaran lingkungan.

Penanganan yang cermat dan teliti sangat diperlukan dalam proses produksi untuk menghasilkan pruduk olahan sesuia dengan standar yang sngat erat kaitannya dengan mutu dan kesehatan produk yang dihasilkan. Hal ini menjadi kendala utama dalam memperkenalkan teknologi pengolahandi wilayah pedesaan, karena pengembangan agribisnin dan agroindustri peternakan dan hasil ikutannya belum berkembang dengan optimal di Propinsi Banten.

Hasil dari olahan ternak sapi potong diantaranya adalah :
a. daging bisa diolah sebagi dendeng, daging asap, sosis, bakso,abon, corned.
b. kulit bisa diolah sebagi bahan untuk pembuatan tas, sepatu, ikat pinggang.

PEMASARAN

Didalam pemasaran hasil sebaiknya dikoordinasikan oleh kelompok tani atau ternak KUD. Agar biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak karena bisa ditanggung bersama-sama. Pemasaran hasil sapi potong selain dipasarkan sebagai sapi potong berupa produk daging, juga sering dijual dalam keadaan hidup dan sebaiknya memilih standar harga per kilogram berat hidup. Hasil panen ternak sapi potong dapat berupa daging dan kulit serta hasil sampingnya berupa pupuk tau gas bio.

Pakan Penggemukan Sapi Potong

Peternakan sapi potong adalah budidaya ternak sapi dengan tujuan utama menghasilkan daging untuk kensumsi. Banyak peternak menanyakan cara mempercepat penggemukan sapi potong, secara alamiah pertambahan berat badan sapi antara 500 gram – 1000 gram/ hari. Untuk sapi lokal seperti sapi bali, madura, PO, Pesisir, dan Aceh pertambahan berat badan harian berkisar antara 300 – 700 gr/ hari. Sedangkan sapi unggul asal luar negeri seperti Simmental, limosine, Angus dan charolise pertambahan berat badan hariannya mencapai 1,3 Kg / hari. Jika kita ingin meransang pertambahan berat badan sapi penggemukan salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian konsentrat yang tepat. Memang saat ini ada cara penggemukan sapi dengan pemberian hormon pertumbuhan namun cara ini belum distandarisasi atau diizinkan secara resmi oleh dinas peternakan.

Penggemukan sapi potong adalah salah satu bisnis yang menitik beratkan usahanya pada proses penggemukan sapi, peternak membeli sapi kurus atau bisa juga pedet dan memeliharanya hingga berat badan atau umur tertentu. Masa pengasuhan dalam kandang penggemukan yang paling ekonomis adalah 6 bulan, jika lebih dari 6 bulan maka pertambahan keuntungan yang diperoleh cenderung stagnan. Agar pertambahan berat badan selama 6 bulan cukup tinggi sebaiknya perhatikan manajemen penggemukan sapi potong secara menyeluruh, mulai dari sistem perkandangan, perawatan, penanggulangan dan pencegahan penyakit, manajemen pakan dan sanitasi lingkunagan peternakan.

Salah satu kendala utama dalam penggemukan sapi potong adalah masalah keterbatasan pakan, untuk itu perlu dicari solusi pakan alternatif selain rumput unggul dan fermentasi. Konsentrat merupakan salah satu pakan yang wajib diberikan jika kita ingin bisnis penggemukan sapi potong ini. Konsetrat yang paling umum digunakan peternak saat ini adalah Dedak (bekatul) + Bungkil kelapa + Mineral + Tepung tulang + garam. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan salah satu bahan pakan ternak yang tersedia banyak di alam dan dapat dijadikan sebagai salah satu konsentrat yang cukup ekonomis. Bahan tersebut adalah batang rumbia (sagu rumbia).

Cara mengolah batang rumbia menjadi konsentrat sapi:
•    Batang rumbia di kupas kulit terluarnya
•    Hancurkan batang (pohon) rumbia yang telah dikupas tersebut dengan mesin atau manual hingga ukuran butiran (remah-remah) ½ cm atau lebih kecil.
•    Rendam hasil cincangan dengan air, biarkan selama sehari dan berikan pada sapi.

Kandungan dari hancuran batang rumbia ini jauh lebih baik dari kandungan dedak (bekatul), didalamnya terdapat kandungan karbohidrat yang tinggi. Harga pohon rumbia per kilo saat ini jauh lebih murah daripada harga bekatul. Sehingga biaya produksi penggemukan sapi potong dapat diminimalisir. Pohon rumbia sebagai pakan ternak telah banyak dicobakan oleh peternak yang didaerah mereka terdapat banyak pohon rumbia. Pohon rumbia ini tumbuh di seluruh wilayah Indonesia, daunnya sering dijadikan atap rumbia.

Usaha peternakan yang  memiliki produktivitas tinggi tidak terlepas dari kualitas makanan yang diberikan dan  memejemen tata laksana yang tepat dan cocok bagi ternak seperti: sanitasi kandang, pencegahan dan pengobatan hama dan penyakit,pencegahan kehilangan energi melalui pembatasan gerak  dan mencegah ternak mengalami stress.  Untuk meningkatkan kualitas gizi makanan dan membantu memperbaiki pencernaan pada ternak teknologi mokroba (probiotik) pakan terus dikembangkan. Disamping itu, mikroba yang menguntungkan tersebut dapat dimanfaatkan pula untuk menekan pertumbuhan pathogen, pengawetan pakan, meningkatkan nafsu makan ternak dan mendekomposisi limbah dan sisa makanan serta kotoran ternak untuk lebih bermanfaat dan tidak mengganggu ingkungan akibat bau dan pencemar.
Bio P2000 Z adalah kumpulan Kultur mikroba unggul berguna pada konsentrasi tinggi yang telahdisinergikan dalam keseimbangan mikro ekologis untuk membantu meningkatkan gizi bahan organik dan menekan anasir racun dan mengubahnya menjadi bahan-bahan organik yang lebih berguna bagi kehidupan.

Tingginya kandungan protein sel tunggal dalam Bio P 2000 Z dan nilai gizi baruyang dibangun oleh agen hayati tersebut maka dalam pengujiannya di lapangan teknologi ini telah terbukti significant dalam memacu melipatgandakan hasil pertanian,memulihkan  lahan kritis yang  miskin hara, dan meningkatkan kualitas bahan organik limbah hasil pertanian untuk pakan ternak. Kehandalan teknologi Bio Perforasi yang dalam bentuk ProdukBio P2000 Z  ini telah diakui sebagai teknologi Unggul Nasional oleh DPRRI dan memiliki paten Nasional maupun Internasional dengan nomor: PCT/ID01/00003 dengan International Publication nomor: WO 01/83400 A2  di 110negara.

Phone
Whatsapp