Pupuk Mikroba Google Merubah Gurun Pasir Menjadi Lahan Pertanian

panen
Penemu mikroba google membuktikan mampu panen padi di gurun

KEDATANGAN profesor dari Arab Saudi awal 2009 menjanjikan tantangan baru bagi Ali Zum Mashar. Profesor Nabil Y Kurashi, salah satu ilmuwan penting di Arab, mewakili negaranya datang menemui Ali di Indonesia. Mereka rupanya penasaran dengan Strain (varian) mikroba temuan Ali yang bisa menyuburkan lahan marginal seperti pasir, gambut, bahkan bekas galian tambang. Di kepala mereka, tebersit harapan menghijaukan gurun pasir.
Ali lantas membawa profesor Universitas King Faisal tersebut ke laboratoriumnya di Cianjur dan Bogor. Utusan negara kaya minyak itu terkesan. Strain mikroba temuan doktor dari Institut Pertanian Bogor itu bisa menyuburkan pasir, tahan perubahan iklim yang ekstrem, bahkan bekerja sangat baik pada eks lahan tambang.

Penerapannya juga mudah. Bagaimanapun, di negara berpadang pasir, bertani di gurun ialah obsesi.
Apalagi Arab Saudi punya gengsi setidaknya mengimbangi teknologi pertanian Israel yang maju. Ali pun dipinang.Tawaran itu mengobarkan jiwa peneliti Ali. Dalam benaknya, gurun hijau akan menjadi penyeimbang emisi yang diakibatkan bahan bakar-Arab Saudi ialah negara kaya minyak.
Mantan pembina transmigrasi di Kalimantan Tengah itu menyanggupi. Jadilah proyek bermodal dana hibah itu berjalan dengan salah satu rencana ialah mendirikan pendidikan agrikultural. Sebagai awalan, ada lahan seluas 300 hektare di Dubai dan 30 hektare di Jeddah yang siap digarap.
Untuk proyek itu, Ali menyiapkan satu tim ahli pertanian. Ali juga mengajak serta ahli kultur jaringan. Mikroba unggulan pun disiapkan untuk berkerja menjadikan gurun berpasir sebagai tanah pertanian. Sebetulnya, pinangan Arab Saudi bukan satu-satunya tawaran dari luar negeri. Ali semata tertarik karena tantangan menyuburkan gurun. Plus, mengirimkan ahli pertanian dan formula penting untuk menyulap gurun pasir sebagai lahan pertanian ialah langkah penting Indonesia menjadi lebih terhormat. “Bagi pemerintah, pengiriman TKI (tenaga kerja Indonesia) ke Arab ialah sumber devisa. Bagi TKI, itu sumber penderitaan. Tapi tetap dilakukan juga toh? Saya kira mengirimkan tenaga ahli ke sana kan jauh lebih terhormat,” ujar Ali,

Sore itu Ali tengah bertemu kolega bisnisnya. Maklum, menjadi peneliti di Indonesia harus tangkas menggerakkan roda kesejahteraan sendiri. Salah satu produknya ialah pupuk hayati BioP2000Z-pupuk berbahan baku ragam mikroba. Bagi petani, pupuk organik itu benar-benar menjadi solusi. Panen kedelai, misalnya, berlipat ganda setelah menggunakan pupuk buatan Ali. Lahan 1 hektare yang biasanya hanya menghasilkan 1-1,5 ton menjadi 4 ton. Padahal kedelai itu ditanam di lahan gambut yang hanya memiliki sedikit unsur hara.
Pupuk buatan Ali terbukti andal untuk ragam palawija dan sudah dipatenkan internasional-mula-mula di Swiss lalu menyusul 121 negara. Lantaran itu pula, Ali dianugerahi penghargaan Hak Kekayaan Intelektual Luar Biasa tahun 2009. Ali juga didapuk menjadi Staf Ahli Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerja. “Mudah-mudahan implementasi teknologi pe-nyuburan lahan di negara ini tidak kalah cepat dengan Arab Saudi,” kata Ali.
Sekilas, ada nada miris pada pernyataannya. Kerap kali, teknologi yang tersedia tidak cepat diimplementasikan meski rakyat nyata-nyata membutuhkan. Ali menyebutkan, ekspor pengetahuan-nya ke Arab Saudi ialah bagian dari mengamalkan ilmu. “Ini kemerdekaan saya sebagai ilmuwan,” ujar Ali.

Berburu mikroba
Lebih dari separuh hidupnya, Ali bergumul dengan mikroba. Sejak kuliah pertanian di Universitas Soedirman Purwakarta, Jawa Tengah, Ali sudah menemukan banyak varian mikroba. Mental penelitinya diuji sejak menyiapkan skripsi. Saat itu Ali berupaya menghidupkan mikroba di media air jambu mete yang keras. Penelitiannya tergolong tidak umum di antara rekan-rekannya satu jurusan yang banyak meneliti tempe dan nata de coco. Laboratorium yang dipakai bersama-sama membuat sampel Ali kerap terkontaminasi. Saat dibekukan di mesin pendingin tukang es malah terkontaminasi garam. Air jambu mete jadi asin. “Akhirnya pakai oven. Saya panas-kan sampai 200 derajat. Saya pakai sarung tangan dan melakukan pemindahan kultur di oven. Ya panas, tapi bisa,” katanya, terkekeh.
Kelak, pengetahuan sterilisasi ini menuntun kesuksesan Ali mengondisikan lahan gambut di Kalimantan Tengah. Namun saat itu, siasat Ali tidak diamini dosen pembimbing karena melenceng dari prosedur. Penelitian itu dituntaskan Ali dalam tiga tahun. “Ya itulah dosa saya,” kata Ali lalu tertawa.

 

Phone
Whatsapp